Seni Indonesia Terlihat Segar, Energetik, Dan Hidup Di Pameran Seni

Pameran Seni

Pameran Seni Mereka berbicara tentang sebuah keluarga yang berasal dari sebuah bangsa atau banyak keluarga dari berbagai macam bangsa. Di Australia. Inggris masih disebut sebagai negara leluhur, sedangkan Inggris berbicara tentang sepupu mereka, Amerika. Negara-negara yang secara geografis bertetangga memiliki hubungan semacam ini, meski dibumbui dengan sikap pilih kasih atau perselisihan layaknya saudara kandung.

Namun, Australia dan Indonesia, yang secara fisik sangat dekat, tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Kita seperti spesies yang berbeda. Saya pikir ini adalah inti dari hubungan kedua negara ini yang selalu putus-sambung dan tidak jelas.

Saya baru-baru ini mendengarkan program seni ABC RN pada pameran Contemporary Worlds: Indonesia, di Galeri Nasional Australia. Penyiarnya berbicara tentang seniman Australia yang bepergian ke New York di Amerika Serikat atau Berlin di Jerman, atau London di Inggris yang semestinya secara intuitif menyebutkan bahwa mereka mungkin saja bepergian ke Jakarta, Singapura atau Tokyo, Jepang.

Memang, Contemporary Worlds Indonesia tampak berasal dari tempat yang asing. Meski kurator dan seniman Australia sudah 30 tahun berhubungan dekat dengan Indonesia meskipun ada niat baik dan banyak retorika pemerintah tentang pentingnya hubungan meskipun begitu banyak pertukaran pendidikan dan budaya, kedua negara masih terlihat asing.

Program Pelatihan Manajemen Pameran Seni Di Indonesia

Saya telah terlibat dalam program pelatihan manajemen seni di Indonesia, lalu menjadi kurator berbagai pameran seni (dari tahun 1990, ketika saya mengadakan Eight Views di Galeri Nasional di Jakarta), lalu sebagai penanggung jawab Asialink Artist-in Residency di Indonesia, dan bertugas di Australia-Indonesia Institute (selalu mengusahakan program seni yang kuat, cerdas, bermakna untuk didukung), dan saya masih melihat orang Australia tidak mengingat nama seniman Indonesia, dan menganggap mereka penting.

Pengajaran bahasa Indonesia di Australia masih diperjuangkan sedangkan pencantuman materi budaya Indonesia secara akademik masih minim. Namun seni Indonesia dulu dan sekarang ini hebat. Pameran di Galeri Nasional Australia ini menunjukkan bahwa seni Indonesia itu segar, energik, manusiawi, hangat, serius, lucu, pintar, sensitif, dan campuran antara politis dan apolitis.

Ada banyak karya yang luar biasa. Tita Salina telah membangun rakit sampah yang dia tumpangi ke Teluk Jakarta (ditampilkan di sini sebagai video), komentar yang sepenuhnya berkaitan dengan polusi, tetapi juga indah seperti sajak ratapan.

Karya Pameran Seni Tarian

Yudha Fehung Kusuma Putera berpakaian dan memotret sekelompok orang dan hewan beraneka ragam dalam pakaian yang mengubah bentuk mereka memunculkan komentar humor namun tajam terhadap kita. Karya grafis Eko Nugroho yang mengacu pada budaya populer relatif terkenal di Australia, tetapi di sini ia menghembuskan udara tiga dimensi ke dalam bentuk kartunnya yang biasanya datar, yang kemudian melenggang di jalan.

Karya Mella Jaarsma, seperti biasanya, berkelas. Satu videonya menunjukkan seorang penari sufi yang digambarkan menghadap ke angkasa, memutar-mutar roknya yang terbuat dari tiruan lanskap sentimental kolonial Mooi-Indie (Hindia yang indah). Tarian bawah-sadarnya adalah bentuk komentar terhadap kapasitas manusia untuk mencari dan menemukan kekuatan dalam terlepas dari berita bohong saat ini dan masa lalu.

Dan kemudian ada rumah ajaib Entang Wiharso yang luar biasa yang terbuat dari logam yang dipotong (tapi bisa saja terbuat dari sarang laba-laba berbahan renda), diterangi oleh lampu gantung. Logam itu memproyeksikan bayang-bayang ke dinding sebagai wujud penghargaan lingkungan dalam bentuk wayang boneka yang datar dan diterangi dari belakang, meskipun jika diamati lebih dekat, potongan-potongan itu adalah ilustrasi kehidupan dan dunia seniman, yang sepenuhnya relevan dengan hari ini.

Karya-karya ini adalah beberapa seni dari Indonesia. Ini adalah karya seni yang hidup yang semakin diakui di seluruh dunia. Mengapa orang Australia tidak mengetahui hal ini?

Peluang Yang Terlewatkan?

Kita memiliki banyak peluang, namun pameran di Canberra ini adalah yang pameran seni Indonesia kontemporer pertama di Galeri Nasional Australia. Galeri Nasional Australia sebelumnya telah mengadakan pameran citra Islam Indonesia. Berwujud kaligrafi dan tekstil-keduanya berkualitas tinggi tapi mereka bukan bentuk seni kontemporer. Jacklyn Babington, salah satu dari dua kurator pameran baru ini, dengan jujur mengungkapkan tentang kurangnya seni Indonesia dalam koleksi Galeri Nasional Australia selama.

Hal ini terjadi meskipun para kurator terkemuka berada di dekat Australian National University, di Canberra. Mereka adalah Caroline Turner sebagai kurator utama, lalu David Williams dan Jim Supangkat yang menyeleksi karya seni Indonesia untuk Triennial Asia Pasifik Pertama di Brisbane, hampir 30 tahun yang lalu (pada November 1991 saat saya juga turut serta). Pilihan mereka dan yang selanjutnya telah mengikutsertakan koleksi karya Indonesia yang diadakan di Brisbane tapi tidak di Canberra.

Pameran yang sekarang ada di Canberra jelas dikumpulkan dengan cepat terlalu cepat, karena Babington mencatat mereka tidak memiliki waktu yang cukup lama (tidak ada kritik disini tentang kurator karena adanya pergantian administrasi gallery).

Galeri Karya Pameran Seni Nasional

Bandingkan waktu yang dibutuhkan Galeri Nasional Singapura untuk menghimpun karya. Mereka baru-baru ini memperoleh salah satu ikon seni Indonesia abad ke-20, Semsar Siahaan dengan karyanya yang berjudul Olympia. Galeri Nasional Singapura juga memiliki keberanian untuk meneliti dan menyatukan. Lukisan lukisan Indonesia abad ke-19 karya Raden Saleh setahun yang lalu, dan memasang koleksi Awakenings. Suatu penelitian serius seni tahun 1960-90-an di kawasan Asia termasuk. Indonesia sebuah tampilan yang benar-benar menawarkan karya penelitian baru ke daerah ini.

Tema-tema besar seni Indonesia membutuhkan ruang untuk muncul: untuk menemukan rasa teatrikal. Sihir yang bersembunyi, dari kenakalan dan kemurnian moral para dewa, keanggunan garis. Dan gaya budaya yang dilatih untuk melihat sudut dari lengan atau tekukan lutut. Seni ini juga meresap melalui rasa komunal yang terbentuk di masyarakat untuk membuat objek dan pertunjukan budaya, baik di kota maupun desa.

Sunshower, pameran Seni Asia Tenggara 2017 oleh lembaga-lembaga besar di Tokyo. Memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk untuk menemukan bentuknya. Program ajaib yang didirikan oleh Japan Foundation di Indonesia sepuluh tahun yang lalu, Kita! Japanese Artists Meet Indonesia, mengirim para kurator. Dan seniman untuk bekerja dengan orang Indonesia, dalam suatu proyek yang menyuarakan energi dan minat kreatif yang sama.

Pada 2014, ada pertunjukan seni Indonesia yang penuh inspirasi di Galeri Nasional Victoria di Australia. Dan menempati ruang yang jauh lebih kecil daripada yang diberikan Galeri Nasional Australia. Namun dua kurator Stern dan Kristi Monfries. Menyatukan suara mereka menggunakan seni visual dan keahlian mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Sebuah Jalan Ke Depan

Dulu, Australia dianggap sebagai pemain penting di kancah seni Indonesia. Kami proaktif kami menciptakan proyek kolaborasi kami bekerja di seluruh kepulauan dari Timor Barat ke Sumatera. Pada awal tahun 2000-an kami mundur, tepat ketika orang Indonesia mulai mencapai langkah internasional mereka. Jim Supangkat, kurator kondang dan terhormat, berkata kepada saya sekitar tahun 2005 ke mana orang Australia pergi?

Kami telah pergi. Sebagian terhalang oleh kejadian-kejadian tertentu, yang pasti, seperti pengeboman di Bali. Tetapi juga oleh komunitas seni Australia yang mungkin lega untuk tidak harus bertemu Indonesia lagi. Pendanaan Dewan Australia untuk proyek-proyek Indonesia tenggelam seperti batu pada tahun-tahun ini; hanya Australia-Indonesia Institute yang menjaga hubungan yang melemah ini.

Ulasan ini dimulai dengan berbicara tentang keluarga, sebuah implikasi dari keluarga karena hubungan darah. Jika itu tidak berhasil dengan Indonesia, bagaimana dengan pernikahan? Atau bahkan keterlibatan? Bahkan berpacaran membutuhkan komitmen dan, diharapkan, perasaan akan masa depan. Beberapa gagasan bahwa tindakan sekarang dapat mengarah pada hasil positif nantinya.

Bagaimana dengan komitmen untuk mencoba sesuatu untuk jangka waktu yang lama, katakanlah rencana lima tahun? Lembaga-lembaga besar, dan Dewan Australia. Program kolaborasi tahunan seri pembicaraan reguler yang signifikan tur kuratorial. Dan tur hal menarik lainnya secara reguler di Jawa pada khususnya, untuk melihat pemandangan seni. Mengunjungi studio, dan menghadiri banyak pertunjukan.

Atau bagaimana dengan komitmen terhadap Pusat Kebudayaan Australia yang baru di Yogyakarta? Keberadaannya diperdebatkan sekitar 15 tahun yang lalu, dan anggaran diajukan, tapi gagal karena ancaman pengeboman. Hampir setiap negara lain yang berurusan dengan Indonesia secara budaya memiliki masalah ini, kecuali kita (Australia). Pusat kebudayaan tersebut seharusnya menjadi tempat untuk meningkatkan keterlibatan. Untuk beberapa diskusi dan pameran tidak mahal tidak dikelola oleh pegawai negeri sedikit bebas dan longgar. Seperti banyak tempat di Jawa yang mengadakan pameran seni yang memukau.

Minim Dana Publik Swasta Untuk Seni, Seniman Menghadapi Dilema

Seniman

Kebanyakan Seniman perusahaan dan individu belum menyasar kesenian dalam filantropi mereka sehingga insan seni menghadapi dilema karena pilihan sumber dana yang terbatas dan kadang kontroversial, seperti rokok dan tambang.

Padahal sejak 2010 pemerintah telah memberikan opsi potongan pajak hingga 25% bagi perusahaan dan individu yang menyumbang untuk kesenian.

Jumlah potongan ini cukup signifikan dan merupakan pengakuan pemerintah atas peran ekonomi sektor seniman. Namun sayangnya insentif ini dalam peraturan perundang-undangan sifatnya berbentuk tambahan di penjelasan (bukan dalam pasal) dan belum dikenal secara luas oleh dunia usaha maupun insan seni sehingga belum menciptakan perubahan berarti.

Sumbangan Untuk Seniman Budaya Minim

Dato’ Sri Tahir, salah satu filantropis terkemuka Indonesia, belum melihat seniman dan budaya sebagai sasaran filantropi Indonesia. Dalam tulisannya awal bulan September di Kompas ia mendorong para konglomerat seperti dirinya untuk menyumbangkan 10% harta kekayaannya untuk bidang pendidikan, kesehatan, usaha kecil, dan bencana.

Saat pelaporan akhir tahun 2016 Koalisi Seni Indonesia (KSI) yang saya hadiri, KSI, sebuah perkumpulan yang mengadvokasi pengembangan seni dan budaya, secara lisan menyampaikan kepada hadirin bahwa mereka baru mendeteksi satu perusahaan yang memanfaatkan insentif ini sejak 2010-2016.

Public Interest Research & Advocacy Public (PIRAC) mengumpulkan berita kedermawanan dan menemukan sembilan bidang yang mendapat sumbangan perusahaan. Seniman budaya menjadi pilihan tiga terbawah.

Dana Kontroversial Jangan Terburu-Buru Menuding Artwash

Mengapa perusahaan mau memberi? Insan seniman kadang mengajukan pertanyaan kritis ini. Selain berperan signifikan dalam menggerakkan ekonomi kreatif, seni adalah bagian dari identitas dan budaya masyarakat sehingga sokongan untuk seni kerap diidentifikasi sebagai filantropi atau upaya baik untuk membangun harkat dan hubungan antara manusia. Seniman dilihat sebagai investasi sosial dan filantropi sehingga entitas komersial mau terlibat dalam pengelolaan seni.

Dalam berbagai kesempatan, upaya artwash menggunakan upaya filantropi untuk menyelamatkan citra perusahaan ditudingkan kepada perusahaan donatur seni. Perusahaan migas Inggris BP adalah salah satu contoh. Ketika menjadi penyebab bencana tumpahan minyak di Meksiko, perusahaan menginstruksikan. Organisasi penerima sumbangan mereka (termasuk British Museum dan Tate) untuk ikut merapatkan barisan mempertahankan reputasi perusahaan.

Di Indonesia, di tengah kondisi status perusahaan yang sempat gonjang-ganjing di tahun 2016, Freeport memilih untuk mendukung pergelaran ArtJog 2016 yang membuahkan unjuk rasa dari beberapa kalangan seniman muda untuk mengembalikan sumbangan Freeport sebesar Rp100 juta rupiah.

Meski demikian, publik penikmat seni nampaknya tidak ambil pusing dan tetap memadati pergelaran yang didukung perusahaan yang dituding tidak berperikemanusiaan dan merusak lingkungan. Dapat dikatakan bahwa isu yang dihembuskan pengunjuk rasa tidak mewakili kepentingan penikmat seni yang tetap memadati ArtJog.

Satu kejadian khusus ini tidak bisa dijadikan ukuran mengenai artwash di Indonesia. Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat, secara umum kesadaran kalangan bisnis di. Indonesia akan pentingnya seni dan budaya masih rendah, sehingga mereka belum melihat potensi kesenian sebagai wahana cuci citra. Terlebih ketika keterlibatan bisnis lokal banyak berupa sponsorship dan bukan donasi sumbangan.

Sponsorship Rokok Yermasuk Besar

Seniman Berbeda dengan donasi yang lebih menekankan aspek filantropi, kerelaan. Dan dukungan moral akan visi seniman, sponsorship lebih bersifat perjanjian. Bisnis transaksional saat penyelenggara menjual kegiatan sebagai wahana promosi produk sponsor.

Seperti dilansir Antara, industri rokok adalah industri yang cukup cerdik memindai dan mendukung seni pertunjukan di Indonesia lewat sponsorship. Di kala iklan rokok di berbagai media dan ruang publik semakin dibatasi, merek dari Djarum, Gudang Garam, dan Philip Morris bertaburan menghiasi panggung dan beragam media promosi pertunjukan: poster, baliho, reklame, spanduk, hingga merek dari festival itu sendiri.

Metode ini pun menjadi cara untuk mengakali peraturan pemerintah yang mulai membatasi ruang gerak promosi mereka. Bersama dengan kampanye aktivitas seni. Produsen rokok pun ikut mendapat panggung, terlebih apabila mereka menjadi sponsor utama. Yang melekatkan nama perusahaan dengan brand pertunjukan tersebut. Penyelenggara akhirnya berperan sebagai perantara antara perusahaan rokok. Dan publik di mana pesan iklan disampaikan secara halus di media dan ruang publik.

Java Jazz sebagai festival jazz terbesar di Asia Tenggara pun disinyalir bakal gulung tikar di tahun 2013 ketika industri rokok menarik diri karena pembatasan iklan rokok lewat PP No. 109/2012, padahal 40% dari pendapatan penyelenggara didapat dari industri tersebut.

Meski sempat kelimpungan mencari sponsor untuk menekan harga tiket agar tetap terjangkau. Langkah Java Jazz untuk mengambil jarak dari produsen rokok dan mempertahankan festival sejak tahun 2014 perlu diapresiasi.

Dana Rakyat Untuk Seniman Bisa Mendorong Akuntabilitas

Di beberapa negara di Eropa, ketika suatu lembaga atau acara seni menerima dana publik. Dalam bentuk subsidi pemerintah atau sumbangan masyarakat maka sang penyelenggara dituntut lebih transparan dan etis dalam menerima sumber dana lainnya.

Tetapi di Indonesia selain masyarakat kurang kritis mengenai dana publik yang bersanding dengan dana kontroversial. Jumlah dana publik untuk suatu acara juga kerap tidak signifikan. Akibatnya penyelenggara terpaksa harus mencari sumber lain, dan tidak tertutup kemungkinan dari sponsor kontroversial.

Dana seni budaya di Kementerian Pendidikan Kebudayaan misalnya, menurut KSI dalam bukunya Filantropi di Indonesia Mengapa Tidak untuk Kesenian?, berkisar antara Rp1,2 triliun hingga Rp 1,88 triliun mulai dari 2013 sampai 2016. Angka ini tidak sampai 5% total anggaran kementerian.

Dewi Gontha dari Java Jazz mengatakan dukungan pemerintah pada Java Jazz tidak sebanding dengan uang dari perusahaan rokok. Maka, pemerintah memegang peranan sentral untuk membangun iklim filantropi seni yang sehat. Bentuknya bisa penyaluran dana publik yang lebih banyak, serta regulasi. Dan insentif pajak yang lebih mantap yang disampaikan dengan jelas kepada publik.

Direktorat Jenderal Perpajakan pun dapat menjemput bola untuk memastikan program. Insentif pajak untuk seni berjalan lewat proyek percontohan. Mendorong perusahaan untuk terlibat dalam inisiatif yang sesungguhnya menguntungkan pebisnis dan insan seni. Pemangkasan birokrasi juga perlu dilakukan untuk memudahkan proses agar tidak berbelit dan menarik bagi bisnis.

Baca Juga : Penemuan Karya Seni Zaman Di Sulawesi Mengungkap Budaya Simbolik

Penemuan Karya Seni Zaman Di Sulawesi Mengungkap Budaya Simbolik

Karya Seni

Karya Seni Sebuah penggalian di sebuah gua di Sulawesi mengungkap koleksi unik ornamen dan karya seni prasejarah yang berasal dari, dalam beberapa kasus, setidak-tidaknya 30.000 tahun lampau. Situs itu diperkirakan pernah dipakai beberapa seniman gua paling awal di dunia.

Temuan-temuan baru kami, http://202.95.10.12/ Karya Seni menggugat pandangan yang lama dianut bahwa masyarakat pemburu-peramu era Pleistosen (Zaman Es) di Asia Tenggara miskin budaya.

Temuan-temuan itu juga menyiratkan bahwa kehidupan spiritual manusia berubah ketika mereka menjumpai spesies-spesies yang tadinya tidak mereka ketahui dalam perjalanan mereka dari Asia ke Australia.

Perjalanan Karya Seni Manusia Keluar Asia

Manusia modern mendiami Australia 50.000 tahun silam. Untuk sampai ke Australia mereka harus menyeberang dengan perahu dari Eurasia kontinental ke Wallacea. Sebuah sebaran rangkaian pulau dan atol yang membentang menjembatani lautan antara Asia daratan dan Australia.

Para arkeolog sudah lama berspekulasi tentang kehidupan kultural Homo sapiens pertama yang memasuki Wallacea. Sebagai bagian dari migrasi besar spesies kita keluar dari Afrika.

Beberapa pihak berpendapat bahwa kebudayaan manusia pada masa Pleistosen. Akhir mencapai tingkat kompleksitas yang tinggi ketika Homo sapiens menyebar ke Eropa, bahkan jauh ke timur sampai India. Sesudah itu, kebudayaan dianggap merosot. Dari segi kecanggihan ketika manusia menempuh perjalanan penuh bahaya ke kawasan tropis Asia Tenggara dan Wallace. Tetapi penelitian baru di Wallacea terus-menerus membongkar pandangan ini.

Temuan Temuan Karya Seni Baru Dari Sulawesi Zaman Es

Karya Seni Dalam tambahan terakhir dari rentetan penemuan ini, kami memaparkan sekelompok artefak simbolik yang belum terdokumentasikan sebelumnya yang digali dari sebuah gua batu kapur di Sulawesi, pulau terbesar di Wallacea.

Menggunakan serangkaian metode, artefak-artefak tersebut ditetapkan berasal dari masa antara 30.000 dan 22.000 tahun lampau. Artefak-artefak itu meliputi manik-manik berbentuk cakram. Yang dibuat dari gigi babi rusa, babi primitif yang hanya ada di Sulawesi. Dan bandul dari tulang jari kuskus beruang, makhluk mirip possum besar yang juga khas Sulawesi.

Ditemukan pula peralatan batu dengan tanda silang, bermotif seperti daun dan pola-pola geometris lainnya, yang maknanya tidak jelas. Bukti lebih jauh bagi kebudayaan simbolis ditunjukkan oleh melimpahnya jejak produksi seni batu yang dikumpulkan dari penggalian gua. Jejak-jejak itu meliputi sisa-sisa oker bekas. Bercak oker pada alat dan sebuah pipa tulang yang mungkin adalah air brush untuk menciptakan seni stensil.

Semua itu berasal dari karya seni deposit yang sama umurnya dengan lukisan gua. Yang sudah ditetapkan masanya di perbukitan batu kapur sekitarnya. Sungguh sangat tidak lazim mengungkap bukti terkubur bagi aktivitas simbolis di tempat-tempat yang sama. Dimana seni batu Zaman Es ditemukan. Sebelum penelitian ini, kita tidak tahu apakah para seniman gua Sulawesi menghias diri mereka. Dengan ornamen atau tidak, atau apakah seni mereka melampaui lukisan batu.

Seni Dan Ornamen Mula-Mula Dari Wallacea

Penggalian-penggalian gua sebelumnya di Timor-Leste (Timor Timur) menemukan kulit kerang berumur 42.000 tahun. Yang dipakai sebagai perhiasan, sebagaimana dilaporkan pada 2016. Pada tahun 2014 para arkeolog mengumumkan bahwa sebuah gua seni dari. Sulawesi termasuk di antara yang paling lama bertahan di planet ini.

Di satu gua, sebuah gambar tangan manusia berumur setidak-tidaknya 40.000 tahun. Gambar itu dibuat oleh seseorang yang menempelkan kuat-kuat telapak dan jari-jari tangannya ke langit-langit dan menyemprotkan cat merah di sekelilingnya. Di sebelah stensil tangan terdapat lukisan seekor babi rusa yang diciptakan setidak-tidaknya 35.400 tahun lampau.

Karya-karya seni ini seumuran dengan dengan lukisan-lukisan gua spektakuler yang menggambarkan badak, mammoth. Dan hewan-hewan lain dari Prancis dan Spanyol, sebuah wilayah yang lama dianggap sebagai tempat kelahiran kebudayaan artistik modern. Beberapa ahli prasejarah bahkan menyatakan bahwa keberadaan seni berumur 40.000 tahun di. Indonesia itu menunjukkan bahwa seni batu mungkin muncul di Afrika jauh sebelum. Spesies kita menginjakkan kaki di Eropa, meski mungkin juga ini berawal di Asia.

Berdasarkan bukti baru yang muncul dari Timur dan Sulawesi, sekarang tampak bahwa kisah manusia purba di. Wallacea kurang maju secara kultural daripada manusia-manusia lain, terutama manusia Eropa Paleolitikum, adalah salah.

Dunia Aneh Wallacea

Berkat keunikan biogeografi Wallacea, manusia modern pertama yang memasuki kepulauan ini pasti. Menjumpai sebuah dunia yang eksotis penuh dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak pernah mereka bayangkan adanya.

Dikelilingi palung-palung laut dalam, sekitar 2.000 pulau Wallacea sangat sulit dijangkau organisme yang tidak bisa terbang. Karena ketertutupan akses, pulau-pulau ini cenderung dihuni relatif sedikit mamalia darat. Garis keturunan endemik pasti muncul di banyak pulau karena dari isolasi evolusioner ini.

Sulawesi adalah pulau yang paling aneh dari semua pulau itu. Pada dasarnya semua mamalia darat pulau itu, kecuali kelelawar, tidak ada di tempat lain di bumi ini. Sulawesi boleh jadi adalah tempat di mana manusia pertama kali melihat marsupial (kuskus).

Penemuan ornamen-ornamen yang dibuat dari tulang dan gigi babi rusa dan kuskus. Beruang dua spesies endemik paling khas di Sulawesi menyiratkan bahwa dunia simbolis. Para pendatang baru tersebut berubah untuk menyertakan makhluk-makhluk yang belum pernah dilihat sebelumnya itu.